Penerapan Sistem Pengering Sepatu Otomatis Berbasis IoT Menggunakan Sensor DHT22 dan Sinar UV-C
DOI:
https://doi.org/10.51817/jitrends.v2i2.42Abstract
Proses pengeringan sepatu yang masih mengandalkan sinar matahari di Indonesia kerap menemui kendala, terutama saat musim hujan. Sepatu yang basah dan lembap dapat menimbulkan ketidaknyamanan, bau tidak sedap, hingga risiko kesehatan akibat pertumbuhan bakteri dan jamur. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini bertujuan merancang sistem pengering sepatu otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang dapat bekerja secara mandiri tanpa bergantung pada cuaca. Sistem dirancang menggunakan mikrokontroler ESP32, sensor DHT22 untuk pemantauan suhu dan kelembaban secara real time, serta relay 4 channel yang mengatur kerja heater, kipas panas, kipas dingin, dan lampu UV-C sebagai alat sterilisasi. Sistem juga dilengkapi dengan limit switch untuk keamanan, LCD sebagai tampilan informasi, dan antarmuka web yang memungkinkan pengguna melakukan monitoring dan kontrol dari jarak jauh. Pengujian dilakukan pada tiga jenis sepatu yaitu sneakers, sport, dan pantofel. Hasil menunjukkan sistem mampu menurunkan kelembaban dari 83–87% menjadi 53–59% dalam waktu 1 jam 50 menit hingga 2 jam 30 menit. Metode ini jauh lebih efisien dibandingkan pengeringan konvensional yang membutuhkan waktu 6 hingga 8 jam. Efisiensi waktu pengeringan mencapai 4–5 jam lebih cepat, serta hasilnya lebih higienis berkat penggunaan UV-C. Konsumsi daya alat rata-rata sebesar 738 watt, dengan estimasi biaya listrik per pemakaian berkisar antara Rp1.830 hingga Rp2.496. Dengan keunggulan tersebut, sistem ini dinilai efektif, aman, dan layak diterapkan untuk keperluan rumah tangga maupun usaha jasa pencucian sepatu.




